Sabtu, 02 Juli 2011

tafsir komunikasi massa

Dalam pembahasan etika dan estetika dalam berdebat , berdiskusi, dan bermusyawarah serta dampak etika dan estetika dalam komunikasi massa , perlu kiranya bagi kita untuk mengerti definisi dari etika dan estetika.
A. Pengertian Etika
Robert c. solomon dalam pengantarnya buku “ etika suatu pengantar ” secara sederhana mendefinisikan etika sebagai suatu studi tata perilaku yang baik dan buruk , penghargaan dan pembenaran atas tujuan yang kita perjuangkan, cita-cita yang kita dambakan dan hukum yang kita anggap baik dan perlu ditaati. Sedangkan pada bagian isi beliau memaparkan etika sebagai bagian filsafat yang meliputi hidup baik , menjadi orang yang baik, berbuat baik, dan menginginkan hal-hal yang baik dalam hidup.
Sedangkan Dr. deddy mulyana , M.A dalam pengantar buku etika komunikasi menyebutkan etika sebagai dialektika antara tujuan yang hendak dicapai dan cara untuk mencapai tujuan itu. Ia berkaitan dengan penilaian tentang perilaku benar atau tidak benar, yang baik atau tidak baik , yang pantas atau tidak pantas, yang berguna atau tidak berguna, dan yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Karenanya etika dalam suatu masyarakat bersifat
Relatif. Dan masing-masing masyarakat mempunyai standart etika tersendiri. Karena etika datang dari evolusi masyarakat yang bersangkutan dalam mengembangkan realitas sosial. Dan etika terikat budaya dari masyarakat tersebut.
B. Pengertian estetika
Estetika adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan seni, yakni keindahan. Dan setiap hal ialah seni.setiap seni memiliki nilai estetika. Sehingga nilai este bersifat universal.
C. Etika dan estetika dalam dialog, diskusi, musyawarah dan debat.
             •     •       
Artinya: serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(al nahl 125)
Nabi muhammad saw yang diperintahkan untuk mengikuti nabi Ibrahim as. Ayat ini menyatakan : wahai Nabi Muhammad serulah, yakni lanjutkan usahamu untuk menyerus semua yang engkau sanggup seru kepada jalan yang ditunjukkan tuhanmu, yakni ajaran islam dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantalah mereka yakni siapapun yang menolak atau meragukan ajaran islam dengan cara yang terbaik. Itulah tiga cara berdakwah yang hendaknya enkau tempuh menghadapi manusia yang beraneka ragam peringkat dan kecenderunganya , jangan hiraukan cemoohan, atau tuduhan yang tidak berdasar kaum musyrikin dan serahkan urusanmu dan urusan mereka pada Allah, karena sesungguhnya tuhanmu yang selalu membimbing dan berbuat baik kepadamu dialah sendiri yang lebih mengetahui dari siapapun yang menduga tahu tentang siapa yang bejat jiwanya sehingga tersesat dari jalan-nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang sehat jiwanya sehingga mendapat petunjuk.
Menurut para ulama’ Ayat ini menjelaskan tiga macam metode dakwah yang harus disesuaikan dengan sasaran dakwah :
• Dakwah terhadap cendekiawan yang memiliki pengetahuan tinggi (komunikan) komunikator diperintah untuk menyampaikan dakwah dengan hikmah yakni berdialog dengan kata-kata bijak yang sesuai dengan tingkat kepandaian mereka (komunikan).
• Dakwah terhadap kaum awam (komunikan) komunikator diperintah untuk menerapkan mau’izhah yakni memberikan nasehat dan perumpamaan yang menyentuh jiwa sesuai dengan taraf pengetahuan mereka yang sederhana.
• Dakwah terhadap ahlu kitab dan penganut agama lain (komunikan) maka yang diperintah adalah jidal / perebatan dengan cara yang terbaik yaitu dengan logika dan retorika yang halus, lepas dari kekerasan dan umpatan.
Kata (I) hikmah antara lain berarti yang paling utama dari segala sesuatu, baik pengetahuan maupun perbuatan (yakni pengetahuan atau tindakan yang bebas dari kesalahan atau kekeliruan). Hikmah juga diartikan sebagai sesuatu yang bila digunakan atau diperhatikan akan mendatangkan kemaslahatan dan kemudahan yang besar atau lebih besar, serta menghalangi terjadinya mudharat atau kesulitan yang besar atau lebih besar. Makna ini ditarik dari kata hakamah, yang berarti kendali karena kendali menghalangi hewan / kendaraan mengarah kearah yang tidak diinginkan, atau menjadi liar. Memilih perbuatan yang terbaik dan sesuai adalah perwujudan dari hikmah. Memilih yang terbaik dan sesuai dari dua hal yang buruk pun dinamai hikmah. Dan pelakunya dinamai hakim (bijaksana).
Menurut Ibn asyur hikmah adalah nama himpunan segala ucapan atau pengetahuan yang mengarah pada perbaikan keadaan dan kepercayaan manusia secara bersinambung.
Menurut thabathaba’I hikmah adalah argumen yang menghasilkan kebenaran yang tidak diragukan,tidak mengandung kelemahan tidak juga kekaburan.
Pakar tafsir al-biqa’i menggaris bawai bahwa al-hakim yakni yang memiliki hikmah , harus yakin sepenuhnya tentang pengetahuan dan tindakan yang diambilnya, sehingga dia tampil dengan penuh percaya diri, tidak berbicara dengan ragu-ragu, atau kira-kira dan tidak pula melakukan sesuatu dengan coba-coba.
Kata  diambil dari kata  ﻮﻋﻈ (wa’azha) yang berarti nasehat . menurut para ulama’ mau’izhah adalah uraian yang menyentuh hati yang mengantar pada kebaikan.
Sedangkan kata  (jadilhum ) diambil dari kataﭸﺪ ا ل (jidal) yang bermakna diskusi atau bukti-bukti yang mematahkan alasan atau dalih mitra diskusi dan menjadikanya tidak dapat bertahan , baik yang dipaparkan itu diterima oleh semua orang maupun hanya oleh mitra bicara. Dari penjelasan diatas dapat ditemukan , bahwa mau’idzah hendaknya disampaikan dengan  (baik) , sedang perintah berjidal disifati dengan kata  yakni yang terbaik., bukan sekedar yang baik. Mau’izhah dan jidal keduanya berbeda dengan hikmah yang tidak disifati dengan satu sifat pun.
Hal ini menunjukkan bahwa mau’idzah itu ada 2 macam:
• Mau’idzah yang bersifat hasanah/ baik : yakni mau’idzah yang dapat mengena hati sasaran bila ucapan yang disampaikan itu disertai dengan pengalaman dan keteladanan dari yang menyampaikanya.
• Mau’idzah yang bersifat buruk : yakni mau’idzah yang tidak dapat mengena hati sasaran karena ucapan yang disampaikan itu tidak disertai dengan pengalaman dan keteladanan dari yang menyampaikanya.
Sedangkan jidal terdiri dari 3 macam :
• Jidal yang baik adalah yang disampaikan dengan sopan, serta mengggunakan dalil-dalil walau hanya yang diakui oleh lawa.
• Jidal yang terbaik adalah yang disampaikan dengan baik, dan dengan argumen yang benar, lagi membungkam lawan.
• Jidal yang buruk adalah yang disampaikan dengan kasar, yang mengundang kemarahan lawan serta yang menggunakan dalih-dalih yang tidak benar.
Sedangkan hikmah tidak perlu disifati dengan sesuatu karena dari maknanya telah diketahui bahwa ia adalah sesuatu yang mengena kebenaran berdasarkan ilmu dan akal.
Metode ini juga yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ketika beliau berdakwah.

Imam Thabathaba’i menolak penerapan metode dakwah terhadap tingkat kecerdasan sasaran. 3 metode itu tidak harus digunakan satu persatu yang disesuaikan dengan sasaran dakwahnya bisa saja ketiga metode ini digunakan dalam satu situasi / sasaran, pada waktu lain menggunakan dua metode atau satu saja masing-masing sesuai sasaran yang dihadapi. Contohnya bisa saja cendekiawan tersentuh oleh mau’izhah,dan tidak mustahil pula orang-orang awam memperoleh manfaat dari jidal dengan yang yang terbaik.
Thohir ibn Asyur berpendapat serupa dan menyatakan bahwa jidal adalah bagian dari hikmah dan mau’izhah. Karena tujuan jidal adalah meluruskan tingkah laku atau pendapat,sehingga sasaran yang dihadapi menerima kebenaran, maka kendatinya ia tidak terlepas dari hikmah atau mau’izhah. Ayat ini menyebutkan secara tersendiri berdampingan dengan keduanya guna mengingat tujuan dari jidal itu.

               •            
Artinya: dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan Katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan Kami dan Tuhanmu adalah satu; dan Kami hanya kepada-Nya berserah diri". (al ankabut 46)
Ayat ini menyatakan; dan wahai kaum muslimin janganlah kamu berdiskusi dengan ahlu kitab yakni orang-orang yahudi dan nasrani, menyangkut ajaran yang kamu perselisihkan kecuali dengan cara berdiskusi, serta ucapan yang terbaik kecuali orang-orang yang berbuat kezaliman diantara meraka,misalnya melampaui batas kewajaran dalam berdiskusi, maka kamu boleh melakukan yang terbaik buat mereka. Namun jika diskusi itu kamu adakan , maka lakukanlah dengan cara yang baik, sesuai dan setimpal dengan sikap mereka yang zalim.
Kata () tujadilu terambil dari kata(د ل ﭸﺎ) jadala yang berarti berdiskusi yakni berupa untuk meyakinkan pihak lain tentang kebenaran sikap masing-masing dengan menampilkan argumentasinya. Ayat diatas menggunakan bentuk jamak, karena itu ia lebih banyak ditujukan kepada kaum muslimin, sebab kemungkinan terjadinya mujadalah dengan cara yang terbaik, hanya dapat diduga dari mereka, bukan dari Rosulullah SAW, atau kepada setiap orang siapapun dia , walau Nabi Muhammad SAW . karena siapapun dan betapapun tinggi dan luasnya ilmunya dia tetap membutuhkan al qur’an dan dia selalu dapat meraih manfaat yang tidak habis-habisnya dari al qur’an.
Kalimat    (kecuali orang-orang yang berbuat kezaliman diantara mereka). Para ulama’ berbeda pendapat dalam memahami kalimat tersebut:
• Yang dimaksud dengan kalimat tersebut adalah ahlu kitab yang belum memeluk islam. Sehingga menurut penganut pendapat ini, perintah untuk berdiskusi dengan baik itu tertuju pada ahlu kitab yang telah memeluk islam.
• Ayat ini justru turun menuntun kaum muslimin bagaimana sebaiknya melakukan dialog dengan pihak lain.
• Sayyid quthub memahami kalimat diatas dalam arti ahlu kitab yang mengubah kitab suci mereka, berpaling dari tauhid kepada kemusrikan karena syirik adalah kezaliman yang paling besar. Menurut sayyid quthub terhadap mereka tidak perlu ada jidal atau diskusi, tidak juga ada sisi kebaikan buat mereka. Tapi pendapat ini banyak ditentang oleh para ulama’.
Maksud dari firman Allah    • (kami telah beriman kepada apa yang telah diturunkan) ayat ini merupakan pengajaran kepada kaum muslimin tentang sikap yang seharusnya mereka ambil , lebih-lebih menyangkut hal-hal yang tidak jelas kebenaran atau kesalahanya dari apa yang disampaikan oleh ahl al-kitab. Dalam konteks ini , Nabi Muhammad saw bersabda “ janganlah kamu membenarkan ahlu kitab dan jangan juga mempersalahkanya , tetapi “katakan kami telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada kamu”.
Adapun jika penyampaiam mereka sejalan dengan al qur’an atau as sunnah atau pertimbangan akal yang sehat maka tidak ada halangan untuk membenarkanya. Dalam kontek ini nabi saw bersabda: “ silahkan kamu menyampaikan dari ahl al-kitab dan tiada halangan bagi kamu “.sedang sebaliknya jika bertentangan dengan al qur’an atau as sunnah atau akal sehat maka tidak ada alasan untuk tidak menyatakan penolakan atasnya.
        
Artinya: Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut".(thaha 44)

D. Pengertian komunikasi massa
Komunikasi massa adalah komunikasi pada khalayak luas dengan menggunakan media massa. Media massa sendiri ialah saluran-saluran atau cara pengiriman bagi pesan-pesan massa. Komunikasi massa memberikan kemampuan baik pada pengirim maupun pada penerima untuk melakukan kontrol sumber “ seperti editor media massa membuat keputusan mengenai informasi yang akikirim sedangkan penerima memiliki kendali terhadap apa yang mereka baca , dengarkan, tonton, atau bahas. Selain itu komunikasi massa terkadang dipengaruhi oleh biaya, politik, dan oleh kepentingan-kepentingan lain.
E. Dampak etika dan estetika dalam komunikasi massa
Komunikasi massa sedikit banyak mempengaruhi etika dan estetika dalam masyarakat. begitu juga sebaliknya. Karena dengan adanya komunikasi massa dapat menyebarluaskan etika dan estetika kepada masyarakat luas.
Etika dan estetika juga dibutuhkan dalam komunikasi massa agar komunikasi massa a yang terjadi tidak melanggar etika dan estetika yang ada dalam masyaraka.
firman Allah SWT yang berhubungan dengan komunikasi massa :
    ••     ••   

Artinya : “ dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui” .
Ayat diatas tidak lagi menggunakan bentuk perintah untuk menyampaikan fungsi nabi Muhammad saw . sebagai bentuk perintah pada ayat-ayat yang lalu. Ini agaknya untuk mengingat beliau betapa besar anugerah-Nya itu sekaligus mengingat seluruh manusia betapa tinggi kedudukan rasul saw. Disisi Allah swt.
Kata () kaffah menurut thabathaba’I dan beberapa ulama’ lain terambil dari kata kaffa yang berarti menghalangi. Atas dasar itu mereka memahami penggalan ayat diatas bermakna: kami tidak mengutusmu kecuali berfungsi sebagai penghalang yang sangat unggul terhadap manusia agar mereka tidak melakukan aneka kedurhakaan . ini dikuatkan oleh kalimat sesudahnya yaitu   . banyak ulama’ memahami kata kaffah dalam arti semua dan ia pada ayat ini berfungsi menjelaskan keadaan manusia . dengan demikian ayat ini menguraikan risalah nabi Muhammad saw. Yang mencakup semua manusia. Ayat ini menurut mereka berarti kami tidak mengutusmu kecuali pengutusan buat semua manusia. Ayat ini menurut mereka berarti kami tidak mengutusmu kecuali pengutusan buat semua manusia. Pendapat ini sejalan dengan fungsi nabi Muhammad saw yang diutus membawa rahmat bagi seluruh alam.
Dalam ayat tersebut, penyampaian Rosululloh kepada masyarakat luas merupakan contoh dari komunikasi massa. Kabar dan ancaman Rosululloh berlaku bagi seluruh umat, tidak hanya bagi bangsa arab saja. Dan dalam proses penyampaiannya menggunakan bahasa yang santun dan tidak memaksakan kehendak pada umatnya untuk mempercayai wahyunya. Itulah etika Rosululloh dalam berkomunikasi massa dan estetikanya terwujud melalui keindahan bahasa wahyunya.
E.1 Dampak Etika dalam Komunikasi Massa
Setiap masyarakat memiliki standart etika yang berbeda dan begitu juga pada komunikasi massa. Karena komunikasi manusia bersifat omnipresent (ada dimana-mana) dan bersifat pelik maka etika komunikasi juga pelik.
Karenanya media massa dipenuhi oleh kode etik. Kode etik ialah pernyataan yang mendefinisikan perilaku yang dapat diterima dan tidak. Kode etik juga merumuskan bagaimana praktisi harus bekerja. Berikut beberapa etika yang harus ada dalam komunikasi massa:
1. Penyampaian berita berdasarkan dasar atau pengetahuan
Dan hendaknya setiap reporter atau komunikator dalam penyampaian beritanya sesuai dengan apa yang ada.
        •         
Artinya:. dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.


 ••        •  • 
Artinya: Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti Setiap syaitan yang jahat,
2. Perbuatan pemberi fatwa sesuai dengan fatwanya
Media massa merupakan media yang efektif dalam berdakwah. Dan tentunya kontrol masyarakat terhadap pemateri sangat ketat sekali. Karena pemateri sekaligus menjadi public figur yang setiap tindakannya diawasi oleh media massa. Oleh karena itu hendaknya dalam proses penyampaian dakwah materi yang disampaikan harus sesuai dengan tindakannya.
  ••          
Artinya: mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?
3. Penghormatan kepada privasi
Etika komunikasi mengatur komunikator untuk menjaga martabat, privasi, dan hak orang lain. Aturan tersebut meliputi bagaimana caranya agar berita yang disampaikan tidak menyinggung perasaan orang lain dan menghargai privasi narasumber.
4. Berita yang disampaikan berimbang dan sebenarnya
Etika komunikasi mengatur mengenai berita apa yang boleh diberitakan, kapan, dan bagaimana penyampaiannya serta harus memuat berita yang sebenarnya dan apa adanya.
        

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar.(al ahzab 70)

E.2 Estetika komunikasi massa
Seperti yang sudah tadi disebutkan, estetika komunikasi massa yang dilakukan oleh Rosululoh termuat dalam keindahan bahasa wahyunya.
 •     •                              
Artinya: Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.
Dari ayat diatas, dapat kita ketahui meski kata-kata al-qur’an di ulang-ulang namun tetap memiliki keindahan tersendiri.
Dalam komunikasi,estetika termuat dalam dalam bahasa dan iklan atau tayangan yang termuat dalam media massa tersebut. Estetika bahasa termaut melalui denotasi dan konotasi. Denotasi dan konotasi merupakan dua proses terpenting dari penggunaan bahasa verbal (tertulis dan lisan). Denotasi merupakan tindakan penggunaan bahasa yang mencerminkan kebiasaan seluruh manusian di dalam upayanya menciptakan dan menemukan tanda-tanda yang menjadikannya mewakili sesuatu yang lain. Tanda di dalam kehidupan berbahasa dikemukakan dalam ikon, indeks, dan simbol-simbol. Proses menciptakan dan menafsirkan simbol-simbol yang lazim disebut dengan signifikasi, merupakan hal yang jauh lebih luas dari sekedar bahasa.
Apek konotatif berupa konsep objek bersifat kultural fungsional dan melekat di dalamnya sebagai suatu yang mengacu pada gagasan, citraan, pengalaman, dan nilai-nilai objek itu. Di dalam pandangan strukturalis, kata dianggap memperoleh signifikasinya dari sebuah kombinasi antara denotasinya dan pengertian di dalamnya. Persoalan penting yang mengemuka dari dalam suatu proses denotasi adalah bahwa denotasi merupakan proses pengunaan bahasa sebagai pengemas makna. Keefektifan maksud dan tujuan pengemasan sangat bergantung pada seberapa efektif kita menampilkan segi-segi estetika ke dalam kemasan itu. Ada tiga aspek dalam upaya pemuatn makna tertentu pada objek seni, meliputi:
1. Kode, cara tertentu memilih, menyusun, dan mengkombinasikan tanda-tanda
2. Makna yang diharapkan
3. Ekspresi atau idiom, cara elemen bentuk dan tanda dikombinasikan sehingga menghasilkan totalitas bentuk, baik berupa elemen linguistik maupun non linguistik.
Estetika dalam periklanan terwujud dalam konsep marketing dan konsep kreatif yang keduanya saling terkait. Konsep marketing komunikasi adalah what to say meliputi tentang apa, untuk siapa, bagaimana, kapan, dan kemana produk akan diarahkan. Ketika what to say terwujud maka selanjutnya ialah how to say melalui ide, strategi, dan konsep kreatif dari orang-orang kreaif.
Di dalam strategi dan konsep kreatif ini unsur estetika sangat berperan. Apalagi jika dalam what to say semua channel digunakan dan lengkap. Banyak unsur yang dapat menjadi sumber inspirasi dan ide kreatif seperti budaya, karakter dan kebiasaan komunikan, terknologi, dan lain sebaginya yang kesemuanya hars di kemahdalam ide kreatif dan elemen estetika yang sesuai. Apabila semuanya sudah selesai maka akan dapat diketahui apakah konsep komunikasi dan ide kreatif berhasil dan mencapai sasaran.



DAFTAR PUSTAKA

Solomon, Robert C. Etika suatu pengantar.Jakarta:Erlangga,1984.
Johannesen, Richard L. etika komunikasi.Bandung:pt rosdakarya,1996.
Vivian, John. Teori komunikasi massa.Jakarta:kencana,2008.
Effendy, Onong Uchyono.komunikasi teori dan praktek.Bandung:pt remaja rosdakarya,2007.
Shihab, Muhammad Quraish.Tafsir al misbah.Jakarta:lentera hati,2002.
Ismail, Abul Fida.Tafsir ibnu kasir vol 14.Bandung:sinar baru algensindo,2003.
Amrullah, abdul malik abdul karim.tafsir al azhar vol 21.jakarta:pustaka panjimas,2006.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar